Dengan senyum lebar dan penuh canda, Maya (nama samaran) menemani malam kami di tengah lahan gusuran. Pada pertemuan pertama itu, nasibnya sedang terdesak dampak sengketa lahan. Pun demikian, Maya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menuangkan anggur ke gelas kami dengan perlahan. Sesekali, Ia sisipkan pula banyolan. Pada satu kesempatan, Ia bertanya, “Dek, mau ngapain sih? Kok mau dateng kemari?”. Pertanyaan retoris ini mungkin ditujukan pada dirinya sendiri yang tidak terlalu ingin memikirkan penggusuran yang mengancam pekerjaannya.

Maya, 39 tahun, adalah salah satu seorang Lady Companion (LC) sekaligus Pekerja Seks Komersial (PSK) yang penghasilannya berkurang drastis sejak diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kini, Ia tidak hanya menanggung akibat dari larangan berkerumun di tengah pandemi Covid-19, tetapi juga dampak langsung penggusuran.

Di tengah kesulitan tersebut, Ia kerap menghadapi pahitnya cibiran saat meminta bantuan. Pada awal tahun 2021 sebuah perusahaan dan ormas mengeksekusi lahan seluas 2.000 hetare yang dihuni sekitar 20.000 warga termasuk Maya, kini ia tinggal bersama enam pekerja seks lainnya dan tak satu pun dari mereka tahu harus kemana setelah ini.

Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta periode Januari-Sep-
tember 2018, terdapat 79 kasus penggusuran di Ibu Kota. 277 kepala keluarga dan 864 unit usaha menjadi korban, lantas 81 persen penggusuran dilakukan secara sepihak tanpa musyawarah dengan warga terdampak dan 77 persen kasus pengusuran berakhir tanpa solusi bagi korban terdampak, baik berupa kehilangan tempat tinggal maupun kehilangan pekerjaan. Seperti yang dialami Maya dan rekan-rekan kerjanya, keberadaan kafe di daerah ini amat membantu perekonomian mereka. Setiap bulan, mereka mampu mengamankan kiriman untuk keluarg di kampung masing-masing. Namun, hal itu berubah sejak pandemi menyebar di Indonesia. Jangankan mengirim uang ke kampung, untuk biaya hidup sehari-hari saja tak tentu.

Pada situasi sekritis ini, sedikit salah paham pun dapat memantik perselisi-
han. Mereka tak menampik pentingnya uang. Akan tetapi, ada kualitas lain yang melekatkan mereka, yaitu solidaritas. Di lain waktu, saling menemani ketika salah seorang dari mereka melayani lelaki yang tak dikenal. Dengan strategi bertahan seperti ini, Maya berharap teman-temannya siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Nafas mereka tidak akan selamanya berhembus. Tetapi hingga saatnya tiba, Maya ingin selalu bersemangat dalam menebar kebaikan. Untuk itu, Ia telah lama abai akan cibiran, diskriminasi, dan ketidakberpihakan yang menyakitkan.

“Dek, aku mau kaya bunga di puing-puing reruntuhuan” pungkas Maya. Ia berharap orang lain dapat meresapi harum dan keindahan di dirinya hingga nanti.

Foto dan Teks by Muhammad Zaenuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *