Satu tahun sudah berlalu, wabah virus COVID-19 telah mengukir kisah cerita
dan perjalanan panjang oleh masyarakat Indonesia khususnya para petugas
pemakaman PLPJ di Pondok Rangon banyak cerita suka dan duka menjal-
ani profesi yang menantang ini, arti menantang disini bukan hanya berani
menindak keadilan semata, tapi sebagai garda depan pasukan hijau yang
membantu tanpa pamrih prosesi pemakaman dengan terror mengerikan bagi
dunia saat ini.

Profesi ini pada awalnya dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang,
banyak sekali arti hidup yang bisa didapatkan bukan hanya dari popularitas
profesi dan penghasilan yang berkecukupan bagi seseorang untuk hidup se-
jahtera. Fenomena pemakaman pun mendadak menjadi sorotan publik ketika
kasus terror ini ada di Indonesia dan dunia. Memasuki awal tahun 2020 di
bulan Maret kasus pertama COVID-19 muncul berbagai macam cara dilakukan
oleh masyarakat melindungi diri dan keluarga dari ancaman wabah pandemic
ini mulai dari panic buying yang merupakan sifat non-ilmiah dari seseorang
dibawah tekanan situasi karena adanya dampak ini para pekerja sulit untuk
membeli alat pelindung diri, masker, baju hazmat, dll. Sampai dengan di
puncak angka mortalitas kematian meningkat di bulan Agustus hingga Sep-
tember profesi ini tetap bekerja tanpa mengenal lelah sekalipun.

Suka dalam mengerjakan pekerjaan ini tentunya atas kebersamaan kelom-
pok, terbagi menjadi 3 kelompok kelas pemakaman non-reguler, satu kelom-
poknya terbagi menjadi 20-21 orang totalnya menjadi 105 orang yang bertu-
gas memakamkan jenazah covid-19. Duka yang dirasakan oleh petugas juga
menjadikan pengalaman pahit oleh mereka mulai dari “hinaan dari pihak
keluarga korban, sanksi sosial, hingga tidak diizikan tinggal dirumah mereka
masing-masing, sebelum saya pulang kerumah saya harus mandi ditempat
kerja, habis itu kalo udah sampai rumah baju saya harus direndam air panas
dulu terus di cuci lagi, saya juga dirumah ada anak kecil dan tidur juga
disekat gak boleh bareng, kalo balik kerja lagi biasanya saya gak dibolehin
pulang langsung sama istri ya bisa sampai 1 minggulah itu juga sebenernya
emang gak dibolehin sama pimpinan itu pas tahun lalu lagi sibuknya maka-
min jenazah covid” tukas Agus (36) anggota pemakaman dari kelompok C
yang saya wawancarai. Meskipun begitu mereka tetap berusaha semaksimal
mungkin untuk memperbaiki kesenjangan sosial yang mereka dapat.

Memasuki awal tahun 2021 kasus COVID-19 masih terus bertambah pekerjaan
pemakaman di daerah pondok rangon sudah overload untuk penerimaan
jenazah COVID-19. “Ya kalau sekarang sih mulai dari bulan Februari lalu pe-
makaman disini sudah sedikit menerima pemakaman protap (sesuai protokol
kesehatan) paling hanya titipan dari pihak keluarga aja pak” tukas Junaedi
(43).

Foto dan Teks by Ikhwan Fajar Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *