Jakarta  28  Mei  2020  –  Pandemi  Covid-19  membawa  dampak  ekonomi  yang  sangat  luas  terhadap  profesi wartawan foto di Indonesia. Berdasarkan survey yang dibuat oleh organisasi kewartawanan Pewarta  Foto  Indonesia  (PFI)  Pusat,  sebanyak  85,4%  pewarta  foto  mengaku  terkena  dampak  ekonomi tersebut secara langsung. Dalam survey yang melibatkan 123 responden dari seluruh Indonesia itu, 105 orang menjelaskan bahwa dirinya dan perusahaan yang menaunginya merasakan dampak ekonomi akibat wabah berbahaya virus corona.

Lebih  lanjut,  bukan  hanya  karyawan  yang  berstatus  kontrak  atau  pekerja  lepas  yang  terkena  imbas  Covid-19, namun status karyawan tetap justru menjadi bagian yang paling banyak terkena dampak tersebut. Sebanyak 64,2% karyawan yang berstatus tetap menjawab “Iya”, kemudian disusul pewarta foto lepas sebanyak 16,3%, lalu ada pewarta foto dengan status kontrak sebanyak 15,4%, dan sisanya sebanyak 4,1%.

Dalam  survey  tersebut  juga  ditemukan  pula  data-data  yang  cukup  mengejutkan.  Tercatat  1  orang  pewarta foto terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh kantornya, lalu ada 2 orang yang sudah dirumahkan  tanpa  gaji,  kemudian  ada  pula  13  orang  yang  gajinya  dipotong  mulai  dari  10%  hingga  50%. Selain itu, sisa responden menjabarkan dampak ekonomi yang mereka rasakan lainnya adalah penghapusan dan pemotongan jumlah Tunjangan Hari Raya (THR), penghapusan variable lain di luar gaji (tunjangan jabatan, uang makan, transportasi, asuransi, dll), peniadaan bonus tahunan, dan juga ada pula yang mengalami keterlambatan pembayaran gaji bulanan.

Selain  pekerja  kantoran,  pewarta  foto  lepas  juga  turut  merasakan  dampak  ekonomi  ini.  Sejumlah  responden menjawab bahwa mereka mendapatkan keterlambatan dalam pembayaran jasa fotografi dan penundaan penugasan. Disamping itu, pada masa pandemi ini, responden pewarta foto lepas lain turut menjawab bahwa saat ini susah sekali untuk mengirimkan karya-karya fotografinya, dikarenakan perusahaan yang menerima foto‐foto itu juga sedang melakukan efisiensi keuangan, bahkan ada yang sudah memutuskan hubungan dengan para kontributornya.

Menanggapi  hasil  survey  ini,  Ketua  PFI  Pusat  Reno  Esnir  meminta  kepada  seluruh  perusahaan  pers  untuk sebisa mungkin memenuhi hak-hak jurnalis foto. Ia juga berjanji akan membawa hasil survey ini ke Dewan Pers sebagai bahan pertimbangan rancangan pemberian stimulus kepada awak media dan perusahaan pers.

“PFI  Pusat  akan  mengawal  dan  memperjuangkan  nasib  teman-­‐teman  pewarta  foto  selama  masa  pandemi ini. Selain memberi himbauan kepada perusahaan pers, kami (PFI Pusat) juga sudah berkoordinasi  secara  internal,  dan  kami  juga  telah  memberikan  bantuan  langsung  kepada  yang  bersangkutan. Sementara ini PFI Pusat akan mengutamakan dulu teman-teman yang paling parah terkena dampak ekonomi Covid-19 ini, baru setelah itu pelan-pelan yang lain akan kami bantu juga”, ujar jurnalis LKBN Antara ini.

Reno  juga  meminta  agar  perusahaan  pers  benar-benar  memikirkan  secara  serius  tentang  nasib  wartawanya, utamanya masalah kesehatan di tengah pandemi Covid-19. “Saya juga meminta supaya perusahaan  pers  membentuk  tim  khusus  yang  secara  rutin  memantau  dan  memperhatikan  kawan-kawan wartawan yang masih harus ke lapangan, syukur-syukur bisa diberikan kompensasi yang layak”, tambah Reno.

Terpisah,  Wakil  Ketua  Dewan  Pers  Hendry  CH  Bangun  juga  turut  memberikan  perhatian  khusus  kepada survey yang dikeluarkan PFI ini. Dewan Pers benar-benar memahami kondisi saat ini sangat tidak menguntungkan untuk pekerja media. “Dalam kondisi prihatin ini diharapkan perusahaan media dapat  memberikan  dukungan  (kepada  wartawan),  karena  organisasi  dan  Dewan  Pers  tidak  dapat  memberikan bantuan dana”, ujar mantan jurnalis Harian Kompas ini.

Narahubung:
Sekjen PFI: Hendra Eka – 08121685152

Bidang Humas: Dwi Pambudo – 081384368727

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *