Harapan Untuk Angan

Harapan Untuk Angan

Kehidupan memberikan banyak angan bagi setiap insan. Ten-tunya semua berhak memiliki hal tersebut. Ada yang mudahdigapai tetapi ada juga yang sulit direalisasikan. Namun bagisetiap orang yang percaya dan optimis akan masa depan per-lu diimbangi dengan usaha dan kerja keras untuk melahirkanharapan. Kampung pemulung Ciputat, sebuah pemukiman kumuh yangmenjadi tempat tinggal para pemulung ini berada di daerahPisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Di sana lahir ke-hidupan yang sederhana, lingkungan yang cenderung kurangsehat, pekerjaan yang kurang layak, bahkan ada beberapa anakyang tidak mampu merasakan kesempatan bersekolah padaumumnya. Padahal pendidikan bagian yang sangat penting bagi setiapinsan dan semua orang berhak memperoleh akses pendidikanyang berkualitas agar terciptanya manusia yang berkualitas,intelektual dan terhidar dari kebodohan. Namun pada kenyata-annya tidak semua terpikirkan oleh orang tua agar anak-anakmereka mendapatkan kesempatan pendidikan pada umumnya.Karena salah satu alasan diantaranya adalah himpitan ekonomidan ketidakmampuan untuk membiayai pendidikan. Walaupunkini sudah muncul kesadaran dari warga kampung pemulungdengan menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Della Safitri (6), anak kecil ceria ini memiliki cita-cita untukmenjadi seorang dokter. Baginya dengan...
Read More
Urban Forest

Urban Forest

Pembangunan infrastruktur sebagai tolak ukur kemajuan per-ekonomian suatu bangsa terus digenjot. beton-beton ditan-capkan disetiap petak lahan yang tersisa. Begitulah gambaransibuknya sebuah kota membangun peradaban modernnya. Di kota megapolitan Jakarta salah satunya, ketersediaan lahansemakin nihil. Lahan yang seharusnya menjadi daerah resapanair telah berubah bentuk menjadi permukiman kaum urbandan gedung-gedung pencakar langit. Kini, tanaman seakan dipaksa berbagi ruang dengan “hutanbeton” perkotaan. Pepohonan dan tumbuhan kerap member-ikan sebuah isyarat tentang ruang lingkup mereka yg mulaiterancam oleh pertumbuhan beton. Kemajuan peradaban seringkali diikuti dengan kemundu-ran ekologi, aspek lingkungan selalu dikorbankan demi nilaiekonomi. Jika masih ada harapan untuk masa yang akan datang, bisakahkita saling berbagi ruang ? Saling menjaga dan merawat demianak cucu kita kelak. Foto dan Teks by Dendy Firmansyach ...
Read More
TANAH TAK KASAT MATA

TANAH TAK KASAT MATA

Malam yang dingin disertai hujan dan kilatan petir yang men-yambar membuat suasana tambah mencekam ketika mengin-jak daerah yang sudah tak dihuni manusia, rasa takut punselalu menghantui mereka ketika melewati daerah KampungCigobang pada malam hari. Pohon-pohon besar menambah kengerian daerah tersebut, na-mun begitu masih ada berbagai macam kehidupan yang men-ghuni tempat tersebut dan menjadi sumber kehidupannya. Bak seperti tempat tak kasat mata karena tak ada penerangansama sekali namun jika melewati rumah-rumahnya akan terasakehidupan lain. Rumah-rumah yang dulu jaya kini sebagian diselimuti lumutdan tanaman menjadi warna-warni dalam menghiasi duniamalam hari, barang-barang serta boneka yang ditinggal jugamenjadi saksi bisu pernah adanya kehidupan. Meskipun mulai dilupakan masyarakat tetapi tetap tempattersebut menyimpan ingatan akan masa lalu yang tak pernahbisa dilupakan bagi masyarakat yang pernah mencicipi manispahitnya hidup di daerah itu. Dan kini hanya lolongan anjing hutan mengisi keramaian daer-ah tersebut. Foto dan Teks by Bagus Khoirunas ...
Read More

The Motherland

“oh iki anak’e kembang desa, piye nang wes enek jodoh, nekdikenali karo anak ku pengin ora ?” Kalimat yang selalu tersiardi telinga saat perjumpaan dengan kerabat di desa ibu saya. Desa dengan luas wilayah 342.95 m2 dengan jumlah penduduk6974 jiwa yang masih di kelilingi sawah dan tepat berada dikaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Sebagai desa yang suburdan sangat asri tempat ini menjadi tempat bersejarah untukhidup saya. Sejak usia dini setiap ada kesempatan saya selalu berkunjunghanya untuk sekedar bersilaturahim atau melepaskan penatketika kota telah membuat ricuh di kepala. Suara gemercik air,lantunan lafalan quran para santri, hamparan padi dan cabaikemuning, riuh tawa anak kecil berenang di sungai, serta terasrumah yang dipenuhi peralatan bersih-bersih dan sawah seak-an menjadi candu kerinduan yang merekah dan memori yangselalu terselip di ingatan. Suara-suara itu kini menjadi terbatas dan sedikit tak terden-gar, ketika pandemi Covid-19 melanda, datang dari zona merahmenuju zona hijau menjadi kecemasan tersendiri terlebih pembatasan dan pelarangan mu-dik yang di lakukan pemerintah pusat dan daerah menjadihambatan. Meski saya selalu punya...
Read More
Kuisoner Survei Dampak Pandemi COVID-19 pada Pewarta Foto 2020

Kuisoner Survei Dampak Pandemi COVID-19 pada Pewarta Foto 2020

Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta akan menggelar Pameran Foto Rekam Jakarta 2019-2020 dengan tema "Ragam Cerita Ibu Kota Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19" pada bulan November mendatang. Dalam acara tersebut akan digelar juga penggalangan dana/Crowdfunding bagi teman kita (pewarta foto) yang terkena dampak Pandemi COVID-19 baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk memberikan rasa adil bagi teman-teman pewarta foto terdampak Pandemi COVID-19, maka kami--Panitia Pelaksana Pameran Foto Rekam Jakarta 2020--bermaksud untuk melakukan pendataan melalui "Survei Dampak Pandemi Covid-19 pada Pewarta Foto 2020". Survei ini dilakukan untuk mengetahui tingkat dampak pandemi Covid-19 yang telah dialami oleh Pewarta Foto di Jakarta khususnya anggota PFI Jakarta. Kami sepenuhnya sadar bahwa kami bukanlah orang-orang yang expert (ahli) dibidang riset, survei dan analisis data. Untuk itu dalam survei ini kami bekerjasama dengan Quadrant Statistical Consultant dalam pembuatan kuisoner hingga pengolahan data. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan platform crowdfunding KitaBisa.com untuk penggalangan sampai penyaluran dana kepada anggota PFI Jakarta terdampak pandemi COVID-19. Dengan pelibatan pihak ketiga kami...
Read More