“oh iki anak’e kembang desa, piye nang wes enek jodoh, nek
dikenali karo anak ku pengin ora ?” Kalimat yang selalu tersiar
di telinga saat perjumpaan dengan kerabat di desa ibu saya.

Desa dengan luas wilayah 342.95 m2 dengan jumlah penduduk
6974 jiwa yang masih di kelilingi sawah dan tepat berada di
kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Sebagai desa yang subur
dan sangat asri tempat ini menjadi tempat bersejarah untuk
hidup saya.

Sejak usia dini setiap ada kesempatan saya selalu berkunjung
hanya untuk sekedar bersilaturahim atau melepaskan penat
ketika kota telah membuat ricuh di kepala. Suara gemercik air,
lantunan lafalan quran para santri, hamparan padi dan cabai
kemuning, riuh tawa anak kecil berenang di sungai, serta teras
rumah yang dipenuhi peralatan bersih-bersih dan sawah seak-
an menjadi candu kerinduan yang merekah dan memori yang
selalu terselip di ingatan.

Suara-suara itu kini menjadi terbatas dan sedikit tak terden-
gar, ketika pandemi Covid-19 melanda, datang dari zona merah
menuju zona hijau menjadi

kecemasan tersendiri terlebih pembatasan dan pelarangan mu-
dik yang di lakukan pemerintah pusat dan daerah menjadi
hambatan. Meski saya selalu punya kesempatan untuk pulang
ke kampung halaman namun pandemi ini sedikit mengganjal
dan berkecamuk pada kerinduan yang tercecer juga bercampur
aduk oleh kekhawatiran yang tak menentu dalam diri, semua
seolah menjadi batasan tersendiri untukku menebus rasa rindu
ini.

Foto dan Teks by Ahmad Tri Hawari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *